The Da Vinci Code : The Movie

Setelah membaca habis novelnya Dan Brown dengan judul yang sama, Saya benar-benar terkesima dengan jalan cerita serta trik trik dan rahasia yang disajikan oleh Dan Brown. Begitu tahu bahwa novel ini dijadikan layar lebar, Saya sangat penasaran bagaimana sang sutradara dan aktor mengangkatnya ke permukaan.

Tom Hanks, adalah aktor favorit Saya. Tapi sayangnya, sewaktu membaca tokoh Robert Langdon dalam novel, Saya merasa kurang pas jika diperankan oleh Tom Hanks. Kurang pas aja. Visualisasi dan imajinasi Saya tentang Robert Langdon tidak menyerupai Tom Hanks sama sekali.

Visualisasi film ini Saya rasa, sutradara kurang berani mengungkapkan apa adanya, seperti halnya yang tertulis dalam novel Dan Brown. Salah satu contohnya adalah pada saat Robert L dan Sophie Neveu bertemu dengan sang profesor yang mengungkapkan rahasia dibalik lukisan the last supper nya leonardo da vinci. Di novel, sang profesor menyatakan dengan jelas bahwa Yesus bukan tuhan, dan Robert Langdon mengangguk, meng-iyakan ataupun menyetujui pendapat profesor ini. Di filmnya, Tom Hanks yang memerankan Robert Langdon malah adu argumentasi dengan profesor dan dia menyatakan bahwa "Anda yang menyatakan demikian, bahwa Yesus itu bukan tuhan, itu pendapat Anda..."

Perbedaan lain adalah Langdon mencium Sophie... mungkin seharusnya tidak dilakukan karena kesimpulan akhir mereka adalah Sophie merupakan keturunan langsung dari Maria Magdalena dan Yesus. Pada adegan terakhir Sophie ditantang untuk melakukan mukzizat Yesus, berjalan di atas air.







The Bourne Ultimatum

If The Bourne Ultimatum is the last film of the Bourne series, then the Bourne franchise is going out with not just a bang but a major ear-splitting explosion. Matt Damon doesn’t rest on his Bourne laurels and proves once again he truly is an action movie star in every sense of the word. The Bourne Ultimatum adopts a take no prisoners approach, loaded with over-the-top action sequences that make this Bourne the meatiest film of the trilogy. Hang on tight because The Bourne Ultimatum is an exciting thrill ride where the action’s in your face and almost non-stop.

The Story
Jason Bourne’s still trying to figure out his past as the third Bourne movie begins. The story picks up right where Bourne Supremacy left off and director Paul Greengrass and his cast haven’t lost a step in the three years between films. Bourne’s the ultimate fighter - sorry Randy Couture and Chuck Liddell - and unafraid of taking down anyone who stands in the way of the truth. Although much of the film takes place in foreign locations, Bourne’s journey leads him back to the United States and straight into the lion's den, the place he believes holds all the answers. It also means he’s up against a new uber-bureaucrat (played by David Strathairn) whose agenda doesn’t include letting Bourne return to the fold.

The Cast
The basic story hasn’t changed in three films, but Damon still manages to play the character as fresh as the day he first stepped into Bourne’s shoes. Damon doesn’t have to prove anything the third time around, but not once does he let down his audience by devoting anything less than 100% of himself to his performance.



Matt Damon and Joan Allen in The Bourne Ultimatum.
© Universal Pictures




Strathairn’s coldly calculating performance is right on, and Joan Allen is once again crisply professional and solid as Pamela Landy. While she’s the heart, soul and moral conscience of this Bourne film, returning Bourne player Julia Stiles is relegated to being not much more than a minor diversion from the main storyline. Stiles’ performance is detached and stiff, and is the one weak spot in an otherwise impressive group of performances that includes Scott Glenn, Paddy Considine, Edgar Ramirez and Albert Finney.
The Bottom Line
Director Paul Greengrass’ use of the handheld camera to capture the immediacy of Bourne’s predicament works for the most part. It’s slightly distracting during the first 20 minutes when most of the scenes are dialogue-driven explanatory shots featuring just two actors. But once the story’s set-up and the film segues into the real meat and bones of the story, Greengrass’ signature style is perfect for the crazy chase scenes and spectacularly well choreographed fights. Damon as Bourne takes out the bad guys in cool and ingenious ways, and the documentary-style storytelling is the perfect tool for putting the audience smack-dab in center of the action.
Returning screenwriter Tony Gilroy’s The Bourne Ultimatum is the leanest and meanest of the series, a chase movie of breathtaking purity. Bourne engages in hand-to-hand combat and even pulls off an incredible escape by throwing a stolen police car into reverse and flying at break-neck speeds away from his pursuers. And just when you get a chance to catch your breath, Greengrass and company slam you back into another full-throttle action scene.
Even while sharing the same basic plot as Identity and Supremacy, there’s nothing recycled about the way The Bourne Ultimatum delivers on the thrills. The Bourne Ultimatum is one of 2007’s best action movies and more than lives up to expectations.
GRADE: A-
The Bourne Ultimatum was directed by Paul Greengrass and is rated PG-13 for violence and intense sequences of action.

Review by Rebecca Murray,

Hukuman Bagi Pezina dan Penuduhnya

2008-02-23-0914-20Buku tipis ini khusus membahas mengenai hukuman bagi pezina, bagaimana pelaksanaannya di negeri yang tidak menerapkan hukum Islam. Cukup bagus sebagai referensi.

Dari Ibnu Mas’ud rodhiallohu ‘anhu, dia berkata: “Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak halal ditumpahkan darah seorang muslim kecuali karena salah satu di antara tiga alasan: orang yang telah kawin melakukan zina, orang yang membunuh jiwa (orang muslim) dan orang yang meninggalkan agamanya memisahkan diri dari jamaah.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Hakikat Seorang Muslim
Seorang muslim yang sesungguhnya adalah yang bersyahadatain dan menunaikan tauhid serta melaksanakan konsekuensinya. Adapun yang sekedar mengaku muslim dengan mengucapkan syahadatain namun melakukan syirik akbar atau bidáh mukafirah maka hakikatnya bukan seorang muslim. Seorang muslim tidak boleh ditumpahkan darahnya kecuali dengan alasan yang syar’i seperti tersebut dalam hadits.

Muslim Yang Halal Darahnya
Ada tiga sebab seorang muslim boleh ditumpahkan darahnya yaitu:

  1. Zina ba’da ihshonin, yaitu jika seorang muslim yang sudah pernah menikah secara syari kemudian berzina maka dengan sebab itu halal darahnya, dengan cara dirajam.

  2. Qishosh, yaitu jika seorang muslim membunuh muslim yang lain dengan sengaja maka dengan sebab itu halal darahnya dengan cara di-qishosh.

  3. Meninggalkan Agama, yaitu ada 2 pengertian:
    a. murtad, artinya keluar dari agamanya dengan sebab melakukan kekafiran.
    b. Meninggalkan jamaah, artinya meninggalkan jamaah yang telah bersatu di atas agama yang benar, dengan demikian ia telah meninggalkan agama yang benar. Termasuk makna meninggalkan jamaah adalah jika memberontak imam yang sah.

Pelaksana Eksekusi
Seorang muslim yang telah dihukumi halal darahnya eksekusinya ada di tangan penguasa (imam) atau yang mewakilinya, jika di negaranya berlaku hukum Alloh. Apabila berada di Negara yang tidak menerapkan hukum Alloh maka tak seorang pun berhak mengeksekusi penumpahan darah. Untuk eksekusi yang tidak sampai penumpahan darah, seperti cambuk, qishosh non-bunuh, maka boleh dilakukan oleh seorang ‘alim jika atas kemauan pelaku. Demikian pendapat sebagian ulama.

Ayat ayat Cinta

Novel karya Habiburrahman El Shirazy ini Saya telat tahu dan akhirnya jadi telat baca. Masak baru tahu sekarang, hari gini gitu lhooo.... ketinggalan berita lah!

Baru aja mulai baca, itupun novelnya dapat pinjaman dari tetangga. Kalau beli, mungkin cukup mahal dan belum tentu suka kan dengan novelnya. Toh tidak semua orang sama, rambut boleh sama hitam, tapi isi pendapat dan kepala boleh lah berbeda. 



Mungkin karena Saya lebih suka dengan jenis novel ala Dan Brown, Sydney Sheldon, yang bertemakan suspense, misteri, penuh teka teki sehingga selama membaca Saya lebih senang menebak-nebak, jadi pada saat membaca novel ini, Saya kurang merasa greget. Kenapa ya?
Mungkin juga karena Saya sudah terlalu lama tidak membaca novel-novel bertemakan cinta. Dan Saya termasuk orang yang parah dalam mengingat nama tokoh. Jangankan nama tokoh yang sulit dicerna, nama teman-teman dan daerah yang pernah Saya kunjungi saja, Saya bisa lupa.
Novel ini baru Saya baca seperempat halaman, tapi Saya merasa, pengarang terlalu bertele-tele menceritakan suatu kejadian dengan deskripsi yang terlau detil yang kadang tidak perlu. Contohnya saja, di lembar lembar awal cerita, Fahri yang sedang naik bis menggambarkan betapa disiplinnya cara orang naik bis di Mesir. "Para penumpang turun. Setelah semuanya naik, barulah penumpang yang sedang menunggu tadi naik bis.' Saya hanya merasa ada deskripsi yang lebih manis tanpa harus menyatakan dengan jelas bahwa semuanya harus turun dulu dan baru kemudian naik satu per satu ke atas bis.

Tapi Saya tetap akan melanjutkan untuk membaca novel ini. Karya pengarang Indonesia soalnya.

Naskah Laut Mati


dead sea scroolPengarang Michael Wise, Martin Abegg Jr. and Edward Cook
ISBN: 9789791275385
13 x 20,5 cm -Terbit: Segera (mungkin masih diterjemahkan - padahal ini sudah diterbitkan sejak tahun 1997, dan baru mau akan ada di Indonesia)


Edisi revisi dan tambahan ini mencakup terjemahan baru dari banyak teks, pengantar untuk semua teks, dan pengantar baru yang meringkas sepuluh tahun terakhir eksplorasi Gulungan Laut Mati
Karya penting dari tiga pakar ternama Gulungan Laut Mati ini berhasil menyulap gulungan-gulungan kuno Qumran menjadi sangat hidup. Dengan menerjemah dan memastikan arti setiap bagian yang masih terbaca dari kepingan-kepingan Gulungan Laut Mati, ketiga penulis buku ini menyuguhkan komentar lugas atas keseluruhan teks dan menempatkan Gulungan pada konteks sejarah yang sesungguhnya.
Dalam pendahuluan yang brilian dan kaya wawasan, mereka tak hanya menyajikan tinjauan tentang isi Gulungan yang kerap mengejutkan, tetapi juga membahas misteri paling besar: siapa pengarang gulungan-gulungan itu dan mengapa mereka mengarangnya.




PUJIAN
“Buku yang luar biasa berharga bagi para sarjana maupun pembaca umum.”

Karen Armstrong, penulis A History of God


“Gulungan Naskah Laut Mati tak lagi untuk para sarjana saja. Gulungan-gulungan itu kini tersaji dalam sebuah buku yang bisa dipahami siapa pun. Bacalah teks ini. Tersimpan dua ribu tahun di dalam gua, gulungan-gulungan ini berjuang melawan pelapukan dan pembusukan agar bisa berbicara kepada Anda. Gulungan-gulungan ini telah menghidupkan para pengarang mereka dan akan menghidupkan kita, para pembacanya.”


John Dominic Crossan, Profesor Emeritus De Paul University, dan penulis In Search of Paul dan Historical Jesus


“Edisi revisi dari terjemahan sangat bagus ini menghidangkan terjemahan Gulungan Naskah Laut Mati yang lebih lengkap dan mudah dipahami para pembaca umum.”


Emanuel Tov, editor-in-chief Proyek Publikasi Gulungan Naskah Laut Mati, Hebrew University of Jerusalem

The Solomon Key

Buku ketiga yang melibatkan Robert Langdon, siapa lagi kalau bukan jagoannya Dan Brown. Buku ini rencananya bakalan di release 30 Desember 2008. Ya.. masih lama....

bocorannya dikit nih...

There have been a number of educated guesses regarding the content of The Solomon Key.
Dan Brown's official website states that Solomon Key is the sequel of The Da Vinci Code. We can know by reading chapter 37 of The Da Vinci Code, The Solomon's Key is all about hidden documents buried beneath the ruins of Herod's Temple, which had been built atop the earlier ruins of Solomon's Temple. These documents are very powerful, and were so explosive in nature that the church would stop at nothing to get them. The Priory of Sion was charged with recovering the hidden documents and protecting them forever. To retrieve them, the Priory created a military arm, a group of nine knights called The Order of Poor Knights of Christ and the Temple of Solomon. They are commonly known as The Knights Templar. The Solomon key is purportedly all about hidden documents and The Knights Templar.
While Dan Brown has offered some hints in interviews, most ideas of the likely content of the book come from a marketing strategy used by Brown and his publishers. On the original jacket cover of The DaVinci Code were a number of ciphers and symbols. Their meaning was made clear when a web quest was posted on Dan Brown's website that referenced these clues. This competition made clear that the ciphers referenced the content of the next book from Dan Brown:
"Disguised on the jacket of The Da Vinci Code, numerous encrypted messages hint at the subject matter of Dan Brown's next book"
From these clues, it seems that the following will play a part in the novel:
The fraternity that is known as Freemasonry.
The Masonic membership of 20 of the 56 Founding Fathers
The semi-esoteric architecture of Washington, D.C.
Solomon Kullback, a famous NSA cryptographer
Robert Langdon as the protagonist
It is reported that the book will reference controversial subjects such as the deist viewpoints of some of the Founding Fathers and the Skull and Bones secret society.[6] KSL-TV in Salt Lake City ran a story that in 2004, Dan Brown visited Salt Lake's Temple Square and seemed very interested in the Masonic nature of the symbols carved on the outside of the Latter Day Saints (LDS) Temple. While claimed to be linked, this unofficial relationship, among others, between Freemasonry and Mormonism may play a role in The Solomon Key.
Further research into the ciphers left on the dust jacket of The Da Vinci Code and into Brown's previous sources of information suggest that the following are also possible plot devices in The Solomon Key:
The Kryptos sculpture in the complex of the Central Intelligence Agency in Langley, Virginia (the web quest mentions it by name)
The Mona Lisa's "right eye" (oeil droit in the web quest), possibly mixed with esoteric connections to the Eye of Horus (udjat) and the portrayal of George Washington on the U.S. dollar bill.
The Great Seal of the United States, which some claim contains the Illuminati symbol of an eye above an unfinished pyramid. According to the book 'the 99 Degrees of Freemasonry: Turning the Solomon Key', transposing the seal of solomon (two interlaced triangles) over the Great Seal gives rise to the word 'mason' at the apex points. A copy of the Great Seal and this method of encryption is depicted in the book. Perhaps this secret code will be utilised in the new novel.
The Information Awareness Office, which has as part of its logo the eye and pyramid mentioned above.The House of the Temple, a masonic temple in Washington, D.C.The Society of the Cincinnati, a group formed by officers of the American Revolution who idolized Cincinnatus which (to the alarm of Thomas Jefferson) mutated into a hereditary support system for families of the society. At the time, it was widely criticized as a way of setting up a hereditary nobility in America.
It is rumored that both Vittoria Vetra and Sophie Neveu will appear in this third nove

Qadha dan Qadar

Ulasan tuntas Masalah Takdir. Hard Cover, karya Ibnu Qayyin Al Jauziyah.

2008-02-04-1320-11Banyak hal mencengangkan, karena Saya baru tahu dan masih belum bisa mencerna. Untuk yang imannya masih belum terlalu kuat untuk menerima hal-hal di luar logika, mungkin buku ini bukan buku yang tepat. Tapi untuk yang sudah kuat imannya, buku ini akan menambah wawasan mengenai takdir setiap manusia.

Bahwa dunia ini diciptakan sejak kapan, kapan takdir manusia itu ditentukan, bahkan juga diceritakan bahwa akhir hidup seorang manusia itu apakah akan masuk surga atau neraka pada saat 40 tahun sebelum dunia diciptakan.

Pertengkaran yang terjadi antara Nabi Musa dan Nabi Adam yang terjadi, dimana Nabi Musa menyalahkan Nabi Adam karena telah memakan buah kuldi sehingga seluruh keturunan Adam harus turun dari surga. Jawaban yang tenang dari Nabi Adam adalah "Apakah kau akan menyalahkanku sedangkan takdirku sudah ditentukan 40 tahun sebelum dunia ini diciptakan? Apa yang aku lakukan adalah sudah menjadi takdirku..."

Cukup membuat Saya mengerti kenapa hidup Saya mempunyai jalan seperti yang Saya jalani sekarang. Intinya adalah, hidup itu "go by the flow".